Minggu, 22 Desember 2013

Surat Terbuka Syekh Hasyim Asy'ariy rahimahullah kepada Orang-orang yang Fanatik kepada Satu Madzhab

بسم الله الرّحمن الرّحيم

Dari makhluk yang paling melarat, bahkan tidak ada apa-apanya di dalam hakikat, Muhammad Hasyim Asy’ariy, semoga Allah mengampuninya, kedua orang tuanya, dan seluruh kaum muslimin. Aamiin.

Kepada saudara-saudara kami yang mulia yang tinggal di Pulau Jawa dan sekitarnya, dari para Ulama’nya dan orang-orang awamnya.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Telah sampai kabar kepadaku bahwa di tengah-tengah kalian sedang menyala-nyala api fitnah dan pertentangan. Lalu aku pun memikirkan sebab terjadinya hal itu. Maka (aku simpulkan) sebabnya adalah apa yang dilakukan oleh orang-orang zaman ini, yaitu mereka mengganti dan merubah-rubah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
(Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu)[1]

Dan mereka menjadikan saudara-saudara mereka sesama muslim menjadi  musuh dan tidak mau memperbaiki hubungan dengan mereka bahkan merusak mereka.
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لا تباغضوا ، ولا تدابروا ، وكونوا عباد الله إخوانا وهم يتحاسدون ويتباغضون وبتنافسون ويكونون أعداءً[2] ،  ولا تحاسدوا
(Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, dan saling bermusuhan, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang yang bersaudara, dan mereka orang-orang yang saling dengki, saling membenci, dan yang saling bersaing, akan menjadi orang-orang yang bermusuhan)
Wahai para Ulama’ yang fanatik kepada sebagian madzhab dan sebagian pendapat Ulama’, tinggalkanlah fanatikmu dalam perkara furu’ (cabang agama), yang para Ulama’ saja dalam perkara ini terdapat dua pendapat : pendapat pertama mengatakan,”Setiap mujtahid adalah benar,” dan yang satu lagi mengatakan,”Yang benar itu cuma satu, akan tetapi yang ijtihadnya salah dia tetap diberi pahala.” Tinggalkanlah fanatisme, tinggalkanlah hawa yang merusak ini, belalah agama Islam, dan bersungguh-sungguhlah dalam membantah orang-orang yang mencela Al-Qur’an dan Sifat-sifat Ar-Rahman (Allah), serta orang yang mengaku-aku berilmu tetapi ilmu yang batil dan beraqidah dengan aqidah yang rusak. Maka bersungguh-sungguh dalam menghadapi mereka adalah wajib dan hendaklah sibukkan diri kalian dalam perkara ini.

Wahai para manusia, di tengah-tengah kalian telah banyak orang-orang kafir yang memenuhi daratan negeri kalian, maka barangsiapa yang bangkit dari kalian untuk menyelidiki mereka dan berjaga-jaga dari pengaruh mereka.[3]Wahai para Ulama’, dalam perkara semacam ini maka bersungguh-sungguhlah dah fanatiklah!

Adapun fanatik kalian dalam perkara cabang (furu’) agama dan tindakan kalian membawa manusia pada satu madzhab dan satu pendapat maka ini adalah perkara yang Allah Ta’ala tidak akan menerimanya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan ridho dengannya. Dan tidaklah kalian membawa mereka kepada yang demikian itu kecuali hanya murni fanatisme, saling bersaing, dan saling dengki. Seandainya Imam Asy Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Ibnu Hajar, dan Imam Ramli masih hidup niscaya mereka akan mengingkari kalian dengan pengingkaran yang sangat keras, dan berlepas diri dari apa yang kalian lakukan dan pengingkaran kalian dalam perkara-perkara yang Ulama’ berselisih di dalamnya.

Dan kalian akan melihat orang-orang awam, yang tidak bisa dihitung banyaknya kecuali Allah Ta’ala yang tahu, mereka meninggalkan shalat. Padahal  balasan bagi orang yang meninggalkan shalat menurut Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Ahmad adalah dipenggal lehernya. Malah kalian tidak mengingkari hal ini kepada mereka (orang-orang awam). Bahkan salah seorang dari kalian mungkin melihat tetangganya meninggalkan shalat, akan tetapi kalian diam kepada mereka. Kemudian malah kalian bertingkah mengingkari perkara-perkara cabang yang para ahli fiqih saja berselisih di dalamnya. Dan kalian tidak mengingkari perkara-perkara haram yang dilakukan masyarakat seperti zina, riba, minum khamer, dan lain-lainnya. Kalian tidak mau merubah hal itu karena Allah Ta’ala, akan tetapi kalian sempat merubah-rubah pendapat Asy Syafi’i dan Ibnu hajar. Maka apa yang kalian lakukan itu akan mengantarkan pada perpecahan dan memutus tali silaturrahim, serta orang-orang bodoh akan menguasai kalian, dan jatuhlah wibawa kalian dihadapan para manusia. Dan orang-orang bodoh akan berkata tentang kedaan kalian, maka perkataan mereka tentang kalian akan membinasakan mereka, karena daging kalian adalah beracun dalam kondisi apapun, karena kalian adalah Ulama’. Dan diri kalian akan binasa disebabkan dosa-dosa besar yang kalian lakukan.

Wahai para Ulama’, ketika kalian melihat seseorang melakukan suatu amalan berdasarkan pendapat seseorang yang boleh diikuti dari para imam madzhab yang diakui, walaupun pendapatnya marjuh (lemah), jika kalian merasa tidak cocok dengan mereka maka janganlah berbuat kejam kepada mereka, akan tetapi bimbinglah mereka dengan lembut. Jika mereka tidak mau mengikutimu, maka janganlah kalian jadikan mereka sebagai musuh. Dan permisalan orang yang melakukan hal ini adalah bagaikan orang yang membangun istana tapi dengan jalan menghancurkan kota. Dan janganlah kalian menjadikan hal ini sebagai sebab terjadinya perpecahan, pertentangan, pertengkaran. Maka ini adalah kejahatan yang merata dan dosa besar, yang merobohkan bangunan umat Islam, dan menutup pintu-pintu kebaikan di hadapan mereka.
Oleh karena itulah Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari pertentangan, dan memberi peringatan kepada mereka akan akibat dari pertentangan yang sangat buruk dan buah-buahnya yang sangat menyakitkan. Allah Ta’ala berfirman :
وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
(dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu)[4]

Wahai kaum Muslimin, sesungguhnya dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari-hari ini banyak sekali pelajarannya serta  mengandung nasehat yang banyak, dan bisa mengambil faidah dari semua itu orang-orang yang cerdas. Dan kebanyakan yang bisa mengambil faidah dari semua ini memang mereka para pemberi nasihat yang cerdas.

Igatlah nasihat-nasihat dari peristiwa yang telah berlalu ini dalam setiap kesempatan. Lalu sekarang tinggal apakah kita sudah mampu untuk mengambil pelajaran dan nasihat, serta sadar dari kemabukan kita, dan ingat akan kelalaian kita. Kita tahu kemenangan kita tergantung pada tolong-menolong dan persatuan kita, serta beningnya hati dan keikhlasan kita kepada yang lain. Atau kita akan bernaung di bawah perpecahan, saling menghina, memecah belah, serta kemunafikan, kedengkian, dan kesesatan yang lama. Padahal agama kita satu, agama Islam, madzhab kita satu, madzhab Imam Asy Syafi’i, dan daerah kita satu, Jawa. Dan kita semua termasuk Ahlussunnah Waljama’ah. Maka demi Allah, bukanlah semua itu kecuali bencana yang nyata dan kerugian yang besar.

Wahai kaum Muslimin, bertakwalah kepada Allah, kembalilah pada kitab Rabb kalian, amalkanlah sunnah-sunnah Nabi kalian, dan teladanilah para salaf (pendahulu) kalian yang shalih, niscaya kalian akan beruntung sebagaimana mereka beruntung, dan kalian akan bahagia sebagaimana mereka bahagia. Bertakwalah kepada Allah, dan perbaikilah orang-orang yang berselisih diantara kalian. “Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan janganlah kalian tolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan”[5]. Semoga Allah Ta’ala meliputi kalian dengan kasih sayang-Nya, dan meliputi kalian dengan kebaikan-Nya. “Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang  yang berkata "Kami mendengarkan,” padahal mereka tidak mendengarkan.”[6]

Wassalamu fil mabda’ walkhitaam


Muhammad Hasyim Asy’ari
Tebu Ireng, Jombang





Ahad, 18 Shafar 1435 H/ 22 Desember 2013
 Diterjemahkan oleh Hasim Ikhwanudin, dari kitab Iryadus Sari fi Jam'i Mushonnafati Asy Syaikh Hasyim Asy'ariy



[1] QS. Al Hujurat : 10
[2] Dalam redaksi shahihain dari Sahabat Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau bersabda :
لا تباغضوا ، ولا تحاسدوا ، ولا تدابروا ، وكونوا عباد الله إخوانا , tambahan redaksi Beliau penerjemah belum tahu riwayatnya. Hadits ini juga ada dalam Al Arba’in An Nawawiyah hadits no. 35 dengan redaksi yang agak beda.
[3] Saya kurang paham dengan kalimat ini, namun kemungkinan intinya : “Hendaknya kita bangkit untuk waspada akan pengaruh mereka”. Karena zaman Beliau memang Indonesia sedang dijajah orang-orang kafir.
[4] QS. Al Anfal : 46
[5] QS. Al Maidah : 2
[6] QS. Al Anfal : 21

Tidak ada komentar:

Posting Komentar